September 5, 2013

Perlukah Ospek??

OSPEK!! Ya, itu kata yang sangat paling dibenci oleh para calon mahasiswa atau mahasiswa baru. Ospek (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus) belakangan ini telah keluar dari esensi dasarnya. Sedikit saya mengutip dari Wikipedia bahwa hakikat Ospek adalah "untuk memperkenalkan kampus kepada mahasiswa baru. Kegiatan ini merupakan kegiatan institusional yang menjadi tanggung jawab Universitas untuk mensosialisasikan kehidupan di Perguruan Tinggi dan proses pembelajaran yang pelaksanaannya melibatkan unsur pimpinan universitas, fakultas, mahasiswa dan unsur-unsur lainnya yang terkait". Tapi nampaknya hakikat itu sudah melenceng jauh pada faktanya saat ini. Berikut adalah gambar kegiatan Ospek mahasiswa baru yang saya ambil satu minggu lalu di salah satu perguruan tinggi negeri.



Melihat gambar di atas saya masih tidak dapat menghubungkan bentuk kegiatan pada gambar dengan esensi Ospek itu sendiri. Saya akan sedikit tanggapi mengenai gambar diatas. Hakikat Ospek pertama yang saya kutip di atas adalah untuk memperkenalkan kampus pada mahasiswa baru. Apakah gambar di atas sudah membuktikan cara memperkenalkan dunia kampus? Apakah dunia kampus yang nyata sama seperti yang tersirat pada gambar? 

Perlu disadari oleh pihak kampus bahwa sekarang adalah era modernisasi dan globalisasi. Gambar di atas sama sekali tidak menunjukkan hal tersebut, tapi mengingatkan kita pada jaman kolonialisasi. Dimana pada jaman penjajahan semua rakyat dipaksa menurut dan merasa terintimidasi. Gambar di atas menurut saya malah menunjukkan situasi jaman kolonial. Terkesan mahasiswa baru pada gambar di atas adalah mahasiswa tahun 1945. Terlihat pada gambar semua atribut yang dikenakan mahasiswa yang mengikuti Ospek tidak berhubungan dengan orientasi studi. Atribut tersebut hanya dapat mempermalukan diri mereka sendiri.
Hakikat Ospek kedua adalah mensosialisasikan kehidupan di Perguruan Tinggi. Apakah kehidupan di perguruan tinggi sama seperti pada gambar? Sebaiknya pihak kampus/ perguruan tinggi melakukan pendekatan langsung kepada mahasiswa baru dalam hal sosialisasi kehidupan kampus. Banyak cara pendekatan yang dapat dilakukan dan tidak membuang-buang energi dan waktu seperti pada gambar.
Hakikat Ospek ketiga merupakan proses pembelajaran yang pelaksanaannya melibatkan unsur pimpinan universitas, fakultas, mahasiswa dan unsur-unsur lainnya yang terkait. Tujuan pembelajaran haruslah menjadi tema utama dalam kegiatan Ospek. Setiap siswa yang sudah lulus sekolah dan akan masuk perguruan tinggi tujuannya adalah belajar di jenjang yang lebih tinggi. Begitu juga mahasiswa baru yang melaksanakan kegiatan Ospek haruslah melihat bahwa Ospek yang mereka lakukan adalah suatu pembelajaran, bukan suatu penderitaan. Tidak dipungkiri kegiatan Ospek yang melenceng dari tujuannya malah menimbulkan korban yang tidak lain adalah mahasiswa baru yang mengikuti Ospek tersebut. Contoh yang sudah terjadi di negeri ini: karena tekanan yang berlebihan mahasiwa ospek mengalami pingsan, asma kumat, shock berat, kurang tidur/istirahat, perasaan terintimidasi, perlakuan senioritas yang tidak masuk akal, atribut-atribut yang menyusahkan mahasiswa dan tidak berkaitan dengan studi dan kampus. Anehnya kenapa hal-hal tersebut masih dipertahankan ada.

Ada baiknya jika sistem tersebut disesuaikan dengan perkembangan jaman saat ini. Saya berpikir bahwa kegiatan yang dilakukan mahasiswa baru pada gambar diatas tidak dapat menjamin pembentukan karakter yang baik. Mahasiswa adalah siswa yang jenjang pendidikannya di atas siswa bangku sekolah. Demikian juga pola pikir dan intelektualitas mereka harus di atas siswa SMA. Mungkin lebih bermanfaat jika bentuk kegiatan Ospek yang tidak masuk akal diganti, misalnya untuk meningkatkan dan mengukur daya pikir dan intelektualitas mahasiswa baru, mereka dibebankan untuk menulis Essai tulisan tangan (jangan ketikan komputer untuk menghindari copy/paste) mengenai semua hal yang berhubungan dengan dunia kampus minimal 10 halaman dalam satu hari. Dari situ para dosen/pengajar dapat mengetahui skala kemampuan/intelektualitas mahasiswa yang akan di-didiknya. Jika dari awal mahasiswa terbiasa menulis essai / karya ilmiah maka mereka tidak akan sulit ketika membuat / menyusun / menyelesaikan tugas akhir atau skripsi. Saat ini pimpinan kampus atau fakultas atau jurusan haruslah lebih peka melihat kebutuhan utama mahasiswanya, agar semua kegiatan yang melibatkan semua unsur dalam satu lembaga pendidikan bermanfaat dan memiliki nilai guna. 


-Angelita- 

No comments:

Post a Comment