May 21, 2011

Lacrima Nihil Citius Arescit

Ketika saya mendengarkan sebuah petikan gitar, hati ini tergetar sebab petikan itu melukiskan suatu kesedihan. Saya intip lembaran  partitur dan bertanya dalam hati, "mengapa lagu itu memiliki irama yang sedih?" Oh, ternyata judulnya "Lacrima". Penasaran akan judul tersebut, kucari tahu lagi maknanya dan  artinya adalah air mata. Air mata memang memiliki banyak konotasi. Orang beranggapan bahwa air mata senantiasa berkorelasi dengan kesedihan dan penderitaan. Jawabnya, "Belum tentu!!"
Ada orang yang memiliki air mata buaya, yang pura-pura menangis untuk minta belas kasihan. Tetapi juga ada air mata kegembiraan. Ketika seseorang mengalami keberhasilan maupun lepas dari bahaya, ia mengeluarkan air mata. Ini adalah air mata kebahagiaan dan syukur. Air mata pun memiliki pelbagai kisah.  Kisah air mata yang mengenaskan ada dalam kisah Mahabharata, tulisan C. Rajagopalachari. Tidak ada orang yang tahu bahwa Karna yang sementara beradu keahlian memanah untuk saling membunuh itu adalah putra Kunthi. Ibu mana yang tidak sedih menyaksikan kedua anaknya perang tanding dengan penuh kedengkian. Demi martabatnya sebagai ibu dari para pangeran, Kunthi tidak mengakui Karna di muka umum sebagai putranya. Air mata  Kunthi tidak boleh keluar, yang semestinya mengalir deras. Inilah sebuah kesedihan yang luar biasa. Seandainya Kunthi boleh memilih, tentunya dirinya ingin menangis sepuas-puasnya memeluk Karna, putranya yang pada gilirannya akan rela jika anaknya itu tewas dalam medan laga.
Barangkali kita pernah mendengar kata-kata, "Anak laki-laki dilarang menangis." Tidak mengherankan jika seorang anak laki-laki yang terjatuh dan menangis, sang ibu akan berkata, "Jangan menangis nak!, seperti anak perempuan saja." Untuk urusan sang anak yang dibina untuk menjadi anak yang tidak boleh menangis, saya menyaksikan film  yang berjudul "Spartan". Film ini dengan terus-terang mengukuhkan bahwa dunia kaum laki-laki adalah kekerasan, pantang menyerah dan yang terpenting adalah tidak boleh air mata mengalir dari pelupuk matanya. Sadis memang!!
Tetesan air mata bukan monopoli kaum hawa saja. Kisah-kisah kepahlawanan atau wiracerita tidak menyembunyikan kaum laki-laki, bahkan seorang raja agung yang bernama Raja Priamus pun mengeluarkan air mata. Saat sang Raja menyaksikan putranya sendiri yang bernama Hektor, mati dibunuh secara keji oleh Achilles, Sang Raja mengeluarkan air mata. Kisah ini bisa dibaca dalam buku klasik yang berjudul "Iliad" tulisan Homerus (± abad ke VIII SM). Atau Durna, seorang guru para pangeran Kurawa dan Pandawa, menangis sehabis-habisnya tatkala mendengar kematian putranya Aswatama - meskipun sebenarnya yang mati pada waktu itu adalah Estitama, nama seekor gajah. Menangisnya sang Guru Durna itulah yang dipakai Kresna, ahli dan strategi perang untuk membunuhnya. Air mata yang mengalir itu membuat emosi Durna tidak terkendali dan pada waktu itu juga Arjuna melancarkan serangan panahnya dan matilah dia! (Bdk. Lakon wayang Durna Gugur). Yesus, seperti ditulis oleh Lukas amat sedih dan menangisi kota Yerusalem. Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, ia menangisinya. Katanya, "Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu (Luk. 19: 41). Saat ini, kita bisa menyaksikan di kota Yerusalem berdiri megah sebuah gereja yang bernama Gereja "Dominus Flevit", artinya Gereja Tuhan Menangis. Dalam imajinasi, kita bisa membayangkan, tentunya air mata mengalir dengan derasnya dari mata Yesus. Kesedihan Yesus bisa dipahami. Yesus begitu mencintai umat manusia dan merindukan keselamatan bagi umat-Nya.
Pepatah Latin yang berbunyi, "Lacrima nihil citius arescit" yang berarti tidak ada yang lebih cepat mengering daripada air mata, mengajak kita untuk menyadari bahwa betapapun orang menangis dengan bercucuran air mata, cepat atau lambat, akan mengering dan kesedihan pun terobati. Entah benar, entah salah seseorang yang memiliki beban berat dalam hidupnya tidak ada senjata lain kecuali menangis. Dan setelah air mata keluar, rasa legalah yang didapat  dalam hati.
Setelah menulis beberapa artikel di depan Komputer, air mataku jatuh berlinang. Saya keluar dan melihat taman yang hijau di kebun Skolastikat dan dengan segera air mata pun mengering. Memang benar kata pepatah Latin tadi,  bahwa tidak ada yang lebih cepat mengering daripada air mata.


Skolastikat MSC, 

Markus Marlon MSC

No comments:

Post a Comment